MOROTAI, WartaNewsTV.com – Persoalan lapangan kerja di Kabupaten Pulau Morotai kembali menjadi sorotan. Banyak pencari kerja memilih meninggalkan daerah dan mencari pekerjaan ke luar wilayah, terutama ke kawasan industri Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) di Halmahera Tengah.
Fenomena tersebut terjadi di tengah keluhan masyarakat mengenai kondisi ekonomi yang semakin berat, ditandai dengan tingginya harga kebutuhan pokok serta terbatasnya kesempatan kerja di daerah.
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Kabupaten Pulau Morotai, Rosita A. Lasidji, saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (6/8/2026), mengungkapkan bahwa jumlah pencari kerja yang mengurus kartu pencari kerja atau AK-1 (kartu kuning) mengalami perubahan dibandingkan tahun sebelumnya.
“Tahun 2025 ada sekitar 1.147 orang yang mendaftar kartu kuning. Sebagian besar untuk bekerja ke luar daerah, terutama ke Weda dan IWIP. Mereka berasal dari lulusan SMA, SMP hingga S1,” ujar Rosita.
Ia menjelaskan, pihaknya belum dapat merinci jumlah pencari kerja berdasarkan jenis kelamin karena data tersebut masih dalam proses rekapitulasi melalui buku register.
Sementara itu, hingga awal Agustus 2026, jumlah pendaftar kartu kuning tercatat sebanyak 73 orang, dengan 16 di antaranya perempuan. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode pertengahan 2024 yang disebut mencapai lebih dari 2.000 pendaftar.
Program Pelatihan Terkendala Anggaran
Menurut Rosita, rendahnya penyerapan tenaga kerja di Kabupaten Pulau Morotai tidak terlepas dari keterbatasan program pemerintah daerah akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Program pelatihan kerja melalui Balai Latihan Kerja (BLK) yang selama ini menjadi salah satu upaya meningkatkan kompetensi pencari kerja belum dapat dilaksanakan.
“Sebenarnya kami punya program pelatihan kerja dari BLK. Tetapi karena efisiensi anggaran, program itu belum berjalan. Padahal anak-anak kita sangat membutuhkan pelatihan. Peralatannya ada, tetapi pelaksanaannya tetap membutuhkan anggaran,” jelasnya.
Selain pelatihan, pihak Disnakertrans juga menyebut perlunya membangun kemitraan dengan dunia usaha guna membuka lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat Morotai. Namun, upaya tersebut masih membutuhkan dukungan anggaran.
Warga Pilih Merantau ke IWIP
Kondisi sulitnya memperoleh pekerjaan di Morotai turut dirasakan para pencari kerja.
Seorang pencari kerja yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku memilih mencari pekerjaan di kawasan industri IWIP karena sulit mendapatkan pekerjaan di daerah asalnya.
“Ekonomi sekarang susah. Harga sembilan bahan pokok mahal, lapangan kerja hampir tidak ada. Saya memilih keluar bekerja di IWIP supaya bisa membantu orang tua di kampung. Kami ingin membahagiakan mereka,” ungkapnya.
Ia juga berharap program-program pemerintah daerah dapat lebih dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, termasuk kelompok masyarakat lanjut usia.
Morotai Hadapi Tantangan Serapan Tenaga Kerja
Meningkatnya kecenderungan masyarakat mencari pekerjaan ke luar daerah menjadi salah satu gambaran bahwa Kabupaten Pulau Morotai masih menghadapi tantangan dalam menciptakan lapangan pekerjaan yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.
Padahal, Morotai memiliki potensi ekonomi yang cukup besar, mulai dari sektor perikanan, pertanian hingga pariwisata. Namun, peluang tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu mengimbangi kebutuhan lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
Kondisi ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai. Diperlukan langkah konkret dan berkelanjutan, antara lain melalui peningkatan pelatihan keterampilan, penguatan investasi yang mampu menyerap tenaga kerja lokal, serta perluasan kemitraan antara pemerintah dan dunia usaha.
Fenomena tersebut bukan sekadar persoalan jumlah pendaftar kartu kuning. Di balik angka tersebut terdapat masyarakat yang memilih meninggalkan kampung halaman demi mendapatkan penghasilan dan kehidupan yang lebih baik.
Jika persoalan tersebut tidak segera direspons dengan kebijakan yang tepat, Morotai berpotensi kehilangan semakin banyak tenaga kerja produktif, sementara persoalan pengangguran dan perlambatan ekonomi daerah masih menjadi tantangan yang harus diselesaikan.
Penulis: Habib Inga



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.