Morotai, WartaNewsTV. Com – Ada dua cara manusia memperpanjang usia pengetahuannya: membaca dan bercerita. Yang pertama membuka halaman. Yang kedua membuka ingatan. Membaca membuat kita berkenalan dengan pikiran orang lain. Kita duduk di sebuah ruangan, tetapi pikiran bisa berjalan ke mana-mana.

Ke Roma tanpa membeli tiket, ke London tanpa paspor, ke masa lampau tanpa mesin waktu. Begitulah buku bekerja: diam di atas meja, tetapi membuat pikiran bepergian. Karena itu perpustakaan sesungguhnya bukan gudang buku. Ia adalah ruang perjalanan pikiran.

Di sana seseorang dapat menemukan pengetahuan yang sebelumnya tidak ia kenal. Seorang anak menemukan dunia melalui cerita. Seorang mahasiswa menemukan perspektif melalui penelitian. Seorang guru menemukan metode baru melalui bacaan. Seorang pelaku usaha menemukan kemungkinan melalui pengalaman orang lain.

Membaca, dengan demikian, bukan sekadar aktivitas memindahkan huruf dari halaman ke kepala. Membaca adalah proses memperluas cakrawala. Tetapi ada satu persoalan yang menarik: tidak semua pengetahuan manusia pernah menjadi buku. Sebagian pengetahuan hidup di luar rak. Ia hidup dalam pengalaman seorang nelayan membaca arah angin dan mengenali lautnya.

Ia tinggal dalam pengetahuan seorang petani tentang tanah, musim dan tanaman. Ia berada dalam ingatan seorang guru tentang perubahan pendidikan dari masa ke masa. Ia tersimpan dalam cerita seorang ibu tentang kampung yang dahulu belum seramai sekarang. Ia hidup dalam ingatan para tetua tentang nama tempat, kebiasaan, tradisi dan kisah yang mungkin tidak ditemukan dalam buku pelajaran.

Pengetahuan seperti ini sering disebut sebagai pengetahuan lokal atau local knowledge. Ia tidak selalu lahir dari ruang akademik. Namun bukan berarti nilainya lebih rendah. Justru sering kali pengetahuan itu lahir dari laboratorium kehidupan yang paling panjang: pengalaman. Di sinilah perpustakaan dapat mengambil peran yang lebih luas. Bukan hanya mengajak masyarakat membaca, tetapi juga memberikan ruang kepada masyarakat untuk bercerita.

Sebab ada cerita yang apabila tidak dicatat hari ini, mungkin besok tidak lagi memiliki penutur. Dan ketika penuturnya hilang, sebuah bagian dari ingatan kolektif masyarakat pun ikut menghilang. Maka lahirlah sebuah gagasan sederhana: Bacarita Perpustakaan. Sebuah percakapan yang dapat dilakukan secara rutin. Narasumbernya tidak harus selalu orang dengan jabatan tinggi. Justru keberagaman pengalaman itulah yang membuatnya menarik.

Pejabat dapat bercerita tentang kebijakan dan pelayanan publik. Guru tentang pendidikan. Pengusaha tentang keberanian memulai usaha. Petani tentang tanah dan pangan. Nelayan tentang laut. Mahasiswa tentang kegelisahan generasinya. Pemuda tentang masa depan. Dan masyarakat biasa tentang kehidupan yang mereka jalani setiap hari. Sebab sesungguhnya setiap manusia membawa sebuah buku yang belum tentu pernah diterbitkan.

Judulnya mungkin berbeda-beda. Tetapi isinya bernama pengalaman. Perpustakaan dapat menjadi salah satu tempat pengalaman itu dipertemukan dengan masyarakat. Bayangkan apabila percakapan-percakapan tersebut direkam dan didokumentasikan dengan baik. Hari ini mungkin hanya sebuah obrolan sederhana. Lima tahun kemudian ia bisa menjadi dokumentasi sosial. Sepuluh tahun kemudian mungkin menjadi sumber pengetahuan bagi generasi berikutnya.

Di situlah teknologi sederhana memperoleh makna yang lebih besar. Kopi boleh sederhana. Kamera boleh HP. Ruangan boleh apa adanya. Tetapi gagasannya jangan sederhana. Sebab nilai sebuah percakapan tidak ditentukan oleh mahalnya kamera, tetapi oleh bernasnya gagasan. Tidak ditentukan oleh megahnya ruangan, tetapi oleh kualitas pengetahuan yang dibicarakan. Tidak ditentukan oleh mahalnya kopi, tetapi oleh percakapan yang lahir setelahnya.

Barangkali inilah cara paling sederhana untuk memahami literasi. Literasi bukan hanya kemampuan membaca kata. Literasi adalah kemampuan memahami kehidupan. Karena itu, budaya literasi perlu dibangun melalui banyak pintu. Perpustakaan dapat hadir di sekolah, menyapa mahasiswa, berinteraksi dengan komunitas, membuka ruang dialog, memperkenalkan keanggotaan perpustakaan dan membangun kebiasaan masyarakat untuk menjadikan pengetahuan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari.

Anak-anak sekolah perlu mengenal perpustakaan bukan sebagai tempat yang hanya dikunjungi ketika ada tugas. Mahasiswa perlu melihatnya sebagai ruang bertukar gagasan. Masyarakat perlu merasakan bahwa perpustakaan adalah milik bersama. Dan generasi muda perlu memahami bahwa membaca bukan kegiatan kuno di tengah zaman digital. Justru ketika informasi datang tanpa mengetuk pintu, kemampuan membaca secara kritis menjadi semakin penting.

Di zaman ketika satu pesan dapat beredar ke ribuan orang dalam hitungan menit, kita membutuhkan manusia yang bukan hanya cepat menerima informasi, tetapi mampu memahami, memeriksa dan mengolahnya menjadi pengetahuan. Karena informasi itu banyak. Pengetahuan belum tentu. Dan kebijaksanaan lebih jarang lagi. Maka perpustakaan mempunyai pekerjaan kebudayaan yang jauh lebih besar daripada sekadar menyediakan buku.

Ia ikut membangun manusia yang mampu berpikir. Di Morotai, pekerjaan itu dapat dimulai dengan sesuatu yang sederhana.
Satu buku.
Satu cerita.
Satu narasumber.
Satu kamera.
Satu meja.

Dan beberapa orang yang bersedia duduk, mendengar, lalu berpikir. Tidak perlu selalu menunggu sesuatu menjadi sempurna untuk memulai sesuatu yang baik. Sebab gagasan yang terus menunggu kesempurnaan sering kali akhirnya hanya menjadi gagasan. Sementara gagasan yang dimulai dengan sederhana, apabila dirawat dengan konsisten, dapat tumbuh menjadi gerakan.

Mungkin suatu hari nanti, dari percakapan-percakapan kecil itu, kita memiliki sebuah khazanah pengetahuan Morotai: suara nelayan, kisah petani, pengalaman guru, gagasan mahasiswa, perjalanan pengusaha, cerita orang tua, dan pandangan anak muda tentang masa depan daerahnya.

Itulah perpustakaan yang tidak hanya menyimpan buku. Tetapi juga menyimpan suara zaman. Sebab buku menyimpan apa yang telah ditulis. Sedangkan cerita menyimpan apa yang dialami. Maka izinkan kita merumuskan satu kalimat sederhana: Membaca menambah wawasan. Bercerita menyelamatkan ingatan. Dan apabila keduanya bertemu di sebuah perpustakaan, yang lahir bukan sekadar kegiatan literasi.

Yang tumbuh adalah sebuah kebudayaan: masyarakat yang mau membaca, masyarakat yang mau berpikir, dan masyarakat yang tidak membiarkan pengalaman hidupnya hilang tanpa jejak. Barangkali sebuah gerakan besar memang tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang besar. Kadang ia dimulai dari secangkir kopi. Lalu sebuah cerita. Kemudian sebuah buku. Karena itu, sebuah gagasan akan membuat kita melihat masa depan dengan cara yang sedikit berbeda.

Dan dalam waktu dekat, kami mengundang Anda untuk datang membaca dan bercerita di Perpustakaan Daerah Kabupaten Pulau Morotai. Jadwal menyusul…!

(Editor: Habib Inga)