Pekanbaru, Wartanewstv.com — Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Riau menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau, Kamis (20/8/2026). Massa mendesak aparat penegak hukum mempercepat penanganan perkara dugaan tindak pidana lingkungan hidup yang dikaitkan dengan PT Musim Mas di Kabupaten Pelalawan.

Wakil Ketua I KNPI Riau, Nouvendi, mengatakan pihaknya menyoroti proses penanganan perkara yang dinilai telah berlangsung cukup lama, khususnya perkara yang disebut berkaitan dengan dugaan kerusakan lingkungan di kawasan sempadan Sungai Air Hitam, Pelalawan.

Menurut Nouvendi, PT Musim Mas disebut telah ditetapkan sebagai tersangka korporasi dalam perkara tersebut. Ia juga menyebut, berdasarkan informasi yang diterima KNPI Riau, dugaan kerugian ekologis dalam perkara itu mencapai sekitar Rp187,86 miliar.

“Kasus ini sudah terlalu lama berjalan. Kami mempertanyakan keseriusan aparat penegak hukum dalam menuntaskan perkara yang menyangkut dugaan kerusakan lingkungan,” ujar Nouvendi saat menyampaikan aspirasi.

KNPI Riau meminta Kejati Riau segera menyelesaikan penelitian terhadap berkas perkara yang disebut masih berproses antara penyidik dan jaksa peneliti.

Mereka meminta apabila hasil penelitian menyatakan berkas perkara telah memenuhi persyaratan formil dan materiil, jaksa dapat menerbitkan pemberitahuan bahwa hasil penyidikan telah lengkap atau P-21 sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami meminta Kejati Riau menghentikan proses bolak-balik berkas. Kalau memang sudah lengkap, segera terbitkan P-21 agar perkara dapat diproses sesuai mekanisme hukum,” kata Nouvendi.

Selain mendesak percepatan proses hukum, KNPI Riau meminta aparat terkait melakukan pemeriksaan terhadap aktivitas di sekitar kawasan sempadan Sungai Air Hitam.

KNPI juga meminta instansi berwenang mengevaluasi aspek perizinan, termasuk Izin Usaha Perkebunan (IUP) dan Hak Guna Usaha (HGU), apabila dalam pemeriksaan ditemukan indikasi ketidaksesuaian dengan ketentuan yang berlaku.

Nouvendi turut menyoroti informasi mengenai dugaan keberadaan tanaman kelapa sawit pada jarak tertentu dari bibir sungai. Menurutnya, persoalan tersebut perlu diverifikasi oleh instansi berwenang untuk memastikan kesesuaiannya dengan ketentuan mengenai kawasan sempadan sungai.

“Kami mempertanyakan komitmen keberlanjutan apabila memang ditemukan aktivitas yang melanggar ketentuan di kawasan sempadan sungai. Namun, tentu hal tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan dan proses hukum,” ujarnya.

KNPI Riau juga meminta lembaga terkait mengevaluasi sertifikasi keberlanjutan yang berkaitan dengan perusahaan apabila ditemukan fakta atau pelanggaran yang relevan.

Dalam tuntutannya, KNPI Riau turut meminta instansi berwenang menelusuri aspek perpajakan dan transaksi yang berkaitan dengan kegiatan usaha perusahaan.

Mereka meminta Direktorat Jenderal Pajak (DJP) dan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), sesuai kewenangan masing-masing, melakukan pemeriksaan apabila ditemukan indikasi pelanggaran yang dapat ditindaklanjuti secara hukum.

KNPI Riau juga menyampaikan adanya dugaan aktivitas perkebunan di luar izin serta dugaan ketidaksesuaian dalam pelaporan nilai ekspor komoditas.

Namun, seluruh tudingan tersebut masih berupa dugaan dan tuntutan yang disampaikan KNPI Riau. Karena itu, kebenarannya tetap memerlukan verifikasi dan pembuktian oleh lembaga yang berwenang.

“Kami akan terus mengawal kasus ini. Penegakan hukum harus berjalan, tetapi pemulihan lingkungan juga harus menjadi bagian penting dari penyelesaian perkara,” ujar Nouvendi.

Penulis: Tim Redaksi