Morotai, WartaNewsTV.com — Enam perempuan di Desa Waringin, Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara, menyiapkan bibit mangrove untuk mendukung pemulihan ekosistem pesisir. Sebanyak 1.289 bibit direncanakan ditanam pada akhir November 2026 melalui Program Perempuan Inspiratif untuk Aksi Iklim (PERISAI).

Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya menghubungkan pemberdayaan perempuan dengan aksi pelestarian lingkungan, sekaligus mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir.

Berdasarkan data yang disampaikan, bibit mangrove yang disiapkan terdiri atas jenis Rhizophora dan Bruguiera. Namun, rincian jumlah kedua jenis tersebut masih perlu dikonfirmasi karena angka yang tercantum, yakni 1.028 bibit Rhizophora dan 201 bibit Bruguiera, berjumlah 1.229 bibit.

Kegiatan ini merupakan kolaborasi Indonesia Locally Managed Marine Area (ILMMA), LBH Perempuan dan Anak, serta Komunitas Sekolah Perempuan. Melalui program PERISAI, perempuan didorong mengambil peran langsung dalam aksi iklim dan pelestarian lingkungan di tingkat desa.

Asya, salah satu perempuan yang terlibat dalam pembibitan, mengatakan kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi perempuan untuk berkontribusi secara nyata dalam menjaga lingkungan dan masa depan desa.

“Bagi kami, membibitkan mangrove bukan hanya tentang menyiapkan tanaman untuk ditanam, tetapi juga tentang bagaimana kami sebagai perempuan bisa mengambil bagian dalam menjaga lingkungan dan masa depan desa kami,” kata Asya.

Ia berharap bibit yang telah disiapkan dapat tumbuh dengan baik setelah ditanam pada akhir November mendatang. Menurutnya, keberhasilan kegiatan tidak cukup diukur dari jumlah bibit yang tersedia, tetapi juga dari keberlanjutan penanaman dan pemeliharaannya.

“Kami berharap bibit mangrove ini dapat tumbuh dengan baik setelah ditanam pada akhir November nanti, sehingga bisa membantu melindungi pesisir dari abrasi dan menjaga kehidupan biota laut,” ujarnya.

Mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir, antara lain membantu mengurangi dampak abrasi, menyediakan habitat bagi berbagai biota, serta mendukung kehidupan masyarakat yang bergantung pada sumber daya laut dan pesisir.

Karena itu, penanaman mangrove perlu disertai pemilihan lokasi yang sesuai, pemeliharaan berkala, serta pemantauan pertumbuhan bibit. Langkah tersebut penting untuk meningkatkan peluang hidup mangrove dan memastikan manfaat ekologisnya dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Selain berfokus pada lingkungan, program PERISAI juga menjadi ruang bagi perempuan untuk memperkuat kapasitas, berbagi pengalaman, dan meningkatkan partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Komunitas Sekolah Perempuan menjadi salah satu ruang belajar untuk mendorong keterlibatan perempuan dalam kegiatan komunitas dan pembangunan desa.

Kolaborasi ILMMA, LBH Perempuan dan Anak, serta Komunitas Sekolah Perempuan diharapkan dapat memperkuat partisipasi perempuan dalam pelestarian lingkungan sekaligus mendorong kesadaran mengenai hak-hak perempuan.

Upaya enam perempuan di Desa Waringin ini menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem pesisir dapat dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan secara bersama-sama. Namun, keberhasilan program tersebut nantinya akan bergantung pada pelaksanaan penanaman, perawatan bibit, dan keterlibatan masyarakat dalam menjaga kawasan mangrove.

Dari Desa Waringin, pembibitan mangrove menjadi bagian dari upaya membangun kepedulian terhadap lingkungan sekaligus membuka ruang bagi perempuan untuk berperan aktif dalam menjaga ekosistem dan masa depan desa.

Penulis: Habib Inga