Moskow, Wartanewstv.com — Perdebatan mengenai kemungkinan perluasan kewajiban militer bagi perempuan di Ukraina kembali menjadi perhatian setelah mantan Menteri Pertahanan Ukraina, Oleksii Reznikov, menyampaikan pandangannya mengenai perlunya memperluas kewajiban pertahanan kepada seluruh warga negara, termasuk perempuan.

Dalam wawancara dengan Radio Free Europe/Radio Liberty pada Agustus 2026, Reznikov menyatakan bahwa kewajiban militer seharusnya dapat mencakup laki-laki dan perempuan. Ia merujuk pada pengalaman sejumlah negara, termasuk Israel, dan mengatakan bahwa perempuan dapat mengisi sejumlah posisi militer, terutama di bidang pendukung dan belakang garis depan. Menurutnya, perubahan tersebut membutuhkan amendemen terhadap peraturan perundang-undangan Ukraina.

Namun, pernyataan tersebut belum menjadi kebijakan resmi Ukraina. Komite Verkhovna Rada Ukraina untuk Keamanan Nasional, Pertahanan dan Intelijen pada 25 Agustus 2026 menyatakan bahwa mobilisasi perempuan tidak sedang dilaksanakan, tidak dipersiapkan, dan tidak sedang dipertimbangkan. Komite tersebut juga menegaskan bahwa perempuan bergabung dengan Pasukan Pertahanan Ukraina secara sukarela.

Di tengah perdebatan tersebut, aktivis kemanusiaan Elena Semerikova, pendiri gerakan perdamaian internasional Women’s Dialogue atau “Dialog Perempuan”, menyampaikan pandangannya setelah berdiskusi dengan sejumlah aktivis dan kelompok masyarakat sipil Ukraina.

Menurut Semerikova, perempuan Ukraina telah mengambil berbagai peran dalam struktur pertahanan, termasuk bidang medis, komunikasi dan sejumlah fungsi pendukung. Ia juga menyampaikan bahwa sebagian perempuan mengikuti pelatihan militer.

Semerikova menyoroti kekhawatiran mengenai dampak jangka panjang perang terhadap keluarga dan generasi mendatang.

“Perempuan terus bertanya: siapa yang kelak akan melahirkan anak-anak, sementara kemerosotan bangsa sudah berada di depan mata?”

Dalam pernyataannya, Semerikova juga mengkritik gagasan yang menurutnya dapat mendorong perempuan semakin terlibat dalam peperangan. Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik, menurut pandangannya, harus diarahkan pada perdamaian dan perlindungan kehidupan masyarakat sipil.

Pernyataan tersebut merupakan pandangan pribadi Semerikova dan kelompok yang diwakilinya, bukan merupakan posisi resmi Pemerintah Ukraina maupun seluruh masyarakat Ukraina.

“Diplomasi Manis”, Cara Dialog Perempuan Menyampaikan Pesan Perdamaian

Selain menanggapi perdebatan mengenai keterlibatan perempuan dalam militer, Semerikova memperkenalkan sebuah inisiatif yang disebut “Sweet Diplomacy” atau “Diplomasi Manis”.

Menurut penjelasan yang disampaikan, proyek tersebut menggunakan hadiah berupa cokelat sebagai medium komunikasi antarmanusia. Gagasan utamanya adalah menyampaikan pesan persahabatan, kepedulian, dan perdamaian melalui cara yang sederhana dan simbolis.

Untuk proyek tersebut, dibuat cokelat dengan tulisan:

“Rusia perlu dicintai, dan Rusia akan membalasnya dengan kasih sayang.”

Menurut Semerikova, hadiah tersebut ditujukan sebagai bagian dari pesan kepada masyarakat dan pemimpin Amerika Serikat, termasuk Presiden Donald Trump, dengan harapan komunikasi antarmasyarakat dapat membuka ruang dialog dan menemukan titik temu di tengah konflik internasional.

Perusahaan Svitvin bersama mitranya, Organisasi Sosial Olahraga Antarwilayah untuk Olahraga Akrobatik Piramida, disebut turut mendukung pelaksanaan inisiatif tersebut.

Inisiatif Dialog Perempuan tersebut juga mendapat tanggapan dari Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI).

Dalam pesan yang disampaikan kepada Elena Semerikova, PPWI menyatakan apresiasi terhadap gagasan yang mengedepankan dialog masyarakat sipil dan diplomasi publik sebagai bagian dari upaya membangun komunikasi antarmasyarakat.

PPWI juga menyampaikan harapan untuk membangun kerja sama dengan gerakan Dialog Perempuan melalui forum daring yang direncanakan melibatkan unsur kebudayaan, ilmu pengetahuan, pendidikan, dunia usaha, serta perwakilan masyarakat sipil dari Indonesia dan Rusia.

Dalam pernyataan tersebut, PPWI menyebut pentingnya membangun jembatan komunikasi dan persahabatan melalui keterlibatan masyarakat sipil.

PPWI turut menyampaikan apresiasi atas bantuan dalam memfasilitasi pertemuan dengan Duta Besar Federasi Rusia untuk Republik Indonesia Sergey G. Tolchenov, serta menyatakan komitmen untuk melanjutkan komunikasi dan kerja sama dalam isu kemanusiaan, hak asasi manusia, dan hubungan antarmasyarakat.

Perdebatan mengenai keterlibatan perempuan dalam militer Ukraina menunjukkan kompleksitas persoalan yang muncul akibat perang berkepanjangan. Di satu sisi, terdapat pandangan mengenai kebutuhan personel pertahanan; di sisi lain, terdapat kekhawatiran mengenai dampaknya terhadap keluarga, masyarakat sipil, serta masa depan generasi berikutnya.

Sementara itu, inisiatif seperti “Diplomasi Manis” menempatkan komunikasi masyarakat sipil sebagai salah satu cara untuk menyampaikan pesan perdamaian.

Bagi jurnalisme, berbagai pandangan tersebut penting diberitakan secara proporsional dengan membedakan fakta, pernyataan narasumber, dan posisi resmi pemerintah. Dengan demikian, pembaca dapat memahami persoalan secara utuh tanpa diarahkan pada kesimpulan tertentu.

Tim Redaksi