Medan, Wartanewstv.com — Kekhawatiran terhadap nasib lima jurnalis yang hilang saat meliput erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda, Banten, menggugah puluhan wartawan di Medan, Sumatera Utara, untuk berkumpul dan memanjatkan doa.

Kegiatan bertajuk “Doa Bersama Mengetuk Pintu Langit” tersebut digelar di Surau MIFA (Majelis Ilmu Fardu Ain), Delitua, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, Rabu (16/9/2026).

Doa bersama digelar ketika operasi pencarian Tim SAR Gabungan memasuki hari kesembilan. Hingga saat itu, delapan orang yang berada di dalam speedboat dan menjelajahi perairan Selat Sunda belum ditemukan. Lima di antaranya merupakan jurnalis, sedangkan tiga lainnya adalah awak kapal dan pemandu.

Kelima jurnalis tersebut yakni M. Bagus Khoerunnas dari Antara, Arie Basuki dari Merdeka, Yudhistiro Pranoto dari iNews, Firdaus Jaidi dari Anadolu, serta Donal, jurnalis freelance.

Sementara tiga orang lainnya yakni Kapten Warta, ABK Surakman, dan pemandu bernama Heriyanto.

Di tengah ketidakpastian tersebut, operasi pencarian terus diperluas. Tim SAR Gabungan mengerahkan 22 alat utama sistem pertolongan (alut) air yang dibagi ke dalam delapan sektor laut. Total area pencarian mencapai sekitar 3.439 mil laut persegi.

Operasi juga diperkuat dengan dua unit drone thermal Basarnas serta pemantauan di wilayah pesisir Pulau Enggano dan perairan Bengkulu.

“Pada hari kesembilan ini, Tim SAR Gabungan kembali melaksanakan pencarian dengan mengerahkan 22 alut air yang dibagi ke dalam delapan sektor laut,” ujar Kepala Basarnas Al Amrad.

Bagi para wartawan di Medan, operasi pencarian tersebut bukan sekadar informasi yang mereka ikuti dari ruang redaksi. Lima orang yang masih dalam pencarian merupakan sesama pekerja media yang hilang ketika menjalankan tugas jurnalistik.

Doa bersama dipimpin Pembina DPW Ikatan Media Online (IMO) Sumatera Utara, Tuan Guru Deli (TGD) Prabu Kresna Erde, yang juga merupakan mantan wartawan.

Dalam tausyiahnya, Prabu mengaitkan profesi jurnalistik dengan tanggung jawab menyampaikan kehidupan kepada publik.

“Profesi jurnalistik adalah profesi yang mulia di hadapan Allah Tuhan Yang Maha Kuasa karena wartawan mengabarkan kehidupan,” kata Prabu.

Ia juga menyampaikan doa dan harapan agar kelima jurnalis tersebut senantiasa berada dalam lindungan Tuhan.

Pernyataan mengenai kemungkinan mereka telah “menyatu dengan Tuhan” dan menjadi syahid disampaikan Prabu dalam konteks tausyiah keagamaan dan keyakinan pribadinya.

“Insya Allah mereka syahid karena takdir Allah SWT,” ujarnya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua DPW IMO Sumut H. Ahmad Nuar Erde dan Ketua Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Sumut Erris Napitupulu.

Sementara itu, Ketua PWI Sumut H. Farianda Putra Sinik disebut memberikan dukungan terhadap kegiatan tersebut, meski berhalangan hadir.

Ahmad Nuar mengatakan, doa bersama digelar sebagai bentuk kepedulian sekaligus ikhtiar batin agar kelima jurnalis tersebut dapat ditemukan dalam keadaan selamat.

“Kita berinisiatif menggelar doa bersama ini untuk memohon kepada Allah Tuhan Yang Maha Kuasa agar kelima jurnalis tersebut dapat selamat dan terhindar dari musibah saat melaksanakan tugas,” ujar Nuar.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para wartawan yang hadir serta kepada Prabu Kresna Erde yang menyediakan Surau MIFA sebagai tempat pelaksanaan kegiatan.

Sementara itu, Erris Napitupulu berharap doa yang dipanjatkan bersama tersebut dikabulkan Tuhan dan Tim SAR Gabungan tidak menghentikan upaya pencarian.

“Kita berharap doa ini dijabah Allah Tuhan Yang Maha Esa dan kelima sahabat jurnalis itu ditemukan, bagaimanapun kondisinya. Kita juga berharap Tim SAR Gabungan dapat terus mengupayakan pencarian sahabat kita itu,” kata Erris.

Di laut, pencarian masih berlangsung. Di Medan, para jurnalis memilih menempuh ikhtiar lain: berkumpul, menundukkan kepala, dan mengetuk pintu langit untuk lima rekan seprofesi yang belum diketahui nasibnya.

Penulis: Torang Firmansyah Sirait