Lampung Utara — Melambungnya harga daging ayam di pasaran mulai dirasakan oleh para pedagang kecil, termasuk penjual sempol yang mengandalkan daging ayam sebagai salah satu bahan baku utama.

Kondisi tersebut membuat biaya produksi meningkat, sementara daya beli masyarakat disebut mengalami penurunan. Pedagang kecil pun mengaku kesulitan menaikkan harga jual karena khawatir semakin mengurangi minat pembeli.

Salah seorang pedagang sempol, Sunandar SWP, mengungkapkan bahwa harga daging ayam yang sebelumnya berada di kisaran Rp35 ribu per kilogram, sejak awal Agustus 2026 terus mengalami kenaikan hingga mencapai sekitar Rp45 ribu per kilogram.

“Modal semakin besar, tetapi harga jual tidak bisa ikut naik. Akibatnya keuntungan semakin menipis,” ujar Sunandar.

Menurutnya, kenaikan harga tidak hanya terjadi pada daging ayam. Sejumlah bahan baku lainnya seperti tepung tapioka (aci), tepung terigu, dan kacang tanah juga mengalami kenaikan sehingga semakin menambah beban biaya produksi pedagang kecil.

Kondisi serupa juga dirasakan pedagang makanan lain yang menggunakan daging ayam sebagai bahan baku, termasuk pedagang bakso dan berbagai jenis makanan olahan lainnya.

Sementara itu, berdasarkan keterangan pedagang ayam, kenaikan harga disebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya pakan serta terbatasnya stok ayam yang tersedia bagi pedagang eceran. Sebagian pasokan juga disebut terserap untuk memenuhi kebutuhan program Makanan Bergizi Gratis (MBG).

Di tengah kondisi ekonomi yang sulit dan musim kemarau yang berkepanjangan, para pedagang kecil berharap pemerintah daerah dapat segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga daging ayam maupun bahan pokok lainnya.

Mereka berharap harga kebutuhan pokok kembali stabil sehingga usaha kecil tetap dapat berjalan dan masyarakat tetap mampu membeli kebutuhan sehari-hari dengan harga yang terjangkau.

Penulis: Aris H.

Narasumber: Sunandar SWP — Pedagang Sempol