Morotai, WartaNewsTV. Com— Dampak kerusakan parah pada infrastruktur jembatan tambatan perahu di Pulau Kolorai, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, kian menyulitkan kehidupan masyarakat setempat. Tidak hanya mengancam keselamatan fisik, rusaknya fasilitas publik ini kini mulai melumpuhkan efektivitas waktu dan aktivitas perekonomian warga kepulauan yang hendak memenuhi kebutuhan pokok ke pusat kota di Daruba.

Berdasarkan pantauan lapangan, akibat struktur jembatan yang lapuk dan terbengkalai, warga kini tidak bisa lagi naik atau turun ke perahu motor secara bebas. Ketika kondisi air laut sedang surut, warga terpaksa harus menunggu berjam-jam hingga air laut pasang naik demi bisa bersandar atau melompat aman ke perahu mereka.
Salah seorang warga Pulau Kolorai, Isra, mengungkapkan ketakutannya yang mendalam terhadap kondisi fisik jembatan saat ini. Ia mengaku trauma karena sudah pernah ada kejadian warga setempat yang jatuh terperosok akibat memaksakan diri melintasi jembatan saat air surut.

“Saya sangat takut turun ke perahu karena jembatannya rusak parah. Jangan sampai saya menjadi korban berikutnya. Makanya, suka tidak suka, saya terpaksa harus menunggu air laut ini pasang naik dulu baru berani turun ke perahu,” ungkap Isra dengan nada cemas kepada jurnalis WartaNewsTV.com,Selasa(01/09/2026).

Setengah Mati Berlabuh demi Belanja Sembako ke Daruba
Isra membeberkan bahwa jembatan tersebut merupakan urat nadi tunggal bagi masyarakat untuk keluar masuk pulau. Setiap hari, para motoris dan penumpang harus bersusah payah melakukan pendaratan darurat di sela-sela bangunan jembatan yang miring.
“Kita sebenarnya setengah mati kalau mau berlabuh di jembatan tersebut. Namun, mau tidak mau dan suka tidak suka, ini kondisi jembatan yang ada. Walaupun rusak tetap kami paksakan sandar karena kami punya kebutuhan mendesak untuk datang ke Daruba, terutama untuk berbelanja bahan-bahan pokok semacam sembako dan kebutuhan lainnya,” tambahnya.

Akibat ketergantungan pada siklus pasang surut air laut ini, banyak waktu produktif dan pekerjaan warga Pulau Kolorai yang akhirnya terbengkalai dan tertunda.

“Pernah ada warga Desa Kolorai yang jatuh di sini, makanya kami sangat khawatir untuk turun atau pulang kalau air laut sedang surut. Sekalipun pekerjaan di kota terhambat dan tertunda, kami tetap memilih menunggu air naik demi keselamatan nyawa,” pungkas Isra.

Kondisi dilematis yang dialami oleh masyarakat lingkar pulau wisata ini kian mempertegas pentingnya respons cepat dan realisasi anggaran darurat dari Dinas PUPR serta Dinas Perhubungan Pulau Morotai sebelum jatuh korban yang lebih fatal.

(Penulis: Habib Inga/Wartanewstv.com)