Morotai, WartaNewsTV. Com— Pelaksanaan Salat Istisqa di halaman Kantor Bupati Pulau Morotai tidak hanya menjadi ruang bagi umat Muslim untuk meminta hujan, tetapi juga menjadi momentum refleksi spiritual yang mendalam. Dalam khutbahnya, Khatib Drs. Hi. Rajak Lotar, M.Si., menegaskan bahwa musibah kemarau panjang dan fenomena El Nino merupakan pengingat agar manusia kembali pada ajaran agama yang benar.
Rajak memaparkan data dari lembaga internasional seperti World Meteorological Organisation (WMO) dan NOAA Climate Prediction Center yang mencatat adanya peningkatan suhu di Samudra Pasifik serta pergeseran awan hujan menjauhi Indonesia. Bahkan, BMKG memprediksi musim kemarau di Morotai akan berlangsung hingga Oktober 2026.
Namun, dari sudut pandang agama, Rajak mengingatkan bahwa tidak ada satu pun takdir alam yang terjadi tanpa kehendak Allah SWT, termasuk kebakaran hutan dan ketidakstabilan ekonomi yang melanda saat ini.
“Sikap orang beriman adalah berusaha menggali hikmah dari musibah ini, bukan justru mencari kambing hitam atau menyalahkan ketentuan Allah SWT. Berdasarkan QS. Asy-Syura ayat 30, apa pun musibah yang menimpa kita adalah akibat dari perbuatan dosa dan maksiat kita sendiri,” tegas Rajak dalam khutbahnya, Senin (31/08/2026).
Sindir Praktik Curang Pejabat, Pengusaha, hingga Pegawai
Dalam khutbahnya yang sarat akan kritik sosial, Rajak menyampaikan hadis Rasulullah SAW mengenai pemicu utama datangnya masa-mana sulit dan kemarau panjang. Dua faktor terbesarnya adalah merebaknya praktik kecurangan dalam dunia bisnis serta enggannya para pejabat dan orang kaya untuk mengeluarkan zakat dan sedekah.
“Manakala para pengusaha gemar mencurangi timbangan dan menaikkan harga secara tidak resmi, manusia akan ditimpa masa sulit, biaya hidup tinggi, dan kezaliman penguasa. Begitu pula saat orang kaya dan pejabat enggan berzakat, maka air hujan akan ditahan dari langit,” kutipnya.
Rajak menambahkan bahwa sifat curang ini berpotensi menjangkiti seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang profesi:
Pengusaha: pengusaha yang menyimpan harta benda dan melakukan pungutan ilegal dinilai telah berbuat curang dan mengkhianati aman Al Qur’an.
Pegawai: Pegawai yang kerap terlambat masuk kantor dan pulang mendahului jam kerja tanpa alasan syar’i, namun tetap mengambil hak gajinya secara penuh, juga dikategorikan sebagai tindakan curang.
Guru dan Orang Tua: Pendidik yang gagal menjadi suri teladan serta orang tua yang membiarkan anaknya terjerumus dalam maksiat tanpa pendidikan agama dinilai ikut menyumbang rusaknya moral daerah.
Rakyat: Warga yang tidak menaati aturan atau menyampaikan aspirasi kepada pemerintah secara anarkistis juga disebut melanggar rambu-rambu Al-Qur’an dan Hadis.
Di akhir khutbahnya, Rajak Lotar menegaskan bahwa satu-satunya jalan untuk mengakhiri bencana kemarau panjang ini adalah dengan bertobat secara massal (taubatannasuhha). Ia mengajak seluruh elemen pemangku kepentingan dan masyarakat Morotai untuk merendahkan diri, merintih, dan memohon ampunan agar Allah SWT segera menurunkan rahmat hujan di bumi Morotai.
(Penulis: Habib Inga/Wartanewstv.com)



Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.