Morotai, WartaNewsTV.com — Solidaritas Pelajar Mahasiswa Morotai Timur (SPMMT) Maluku Utara melontarkan kritik terhadap arah kebijakan Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai dalam penyelenggaraan Morotai Festival 2026. Organisasi tersebut menyoroti dimasukkannya lomba game online Mobile Legends (ML) sebagai salah satu dari 17 mata lomba yang diagendakan dalam festival pada 26–29 Oktober 2026.

Bagi SPMMT, persoalannya bukan semata-mata keberadaan lomba permainan digital, melainkan sejauh mana agenda festival daerah mampu menjawab kebutuhan pendidikan, pengembangan kapasitas generasi muda, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di Kabupaten Pulau Morotai.

Kritik ini disampaikan setelah SPMMT menggelar Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) di Pantai Jambula pada 16 Oktober 2026. Organisasi tersebut kini mengarahkan perhatian pada kebijakan pembangunan daerah, khususnya program pemerintah yang dinilai perlu lebih berpihak pada penguatan pendidikan dan kualitas intelektual generasi muda.

SPMMT menilai, pemerintah daerah perlu menjelaskan orientasi dan indikator keberhasilan Morotai Festival 2026. Sebab, festival yang menggunakan ruang dan sumber daya publik semestinya tidak hanya berorientasi pada kemeriahan acara, tetapi juga memberikan manfaat yang terukur bagi masyarakat.

Dalam keterangannya, SPMMT menilai agenda lomba Mobile Legends perlu ditempatkan secara proporsional di tengah persoalan mutu pendidikan yang menjadi perhatian di Morotai.

Menurut organisasi tersebut, pelajar membutuhkan lebih banyak ruang untuk mengembangkan kemampuan literasi, berpikir kritis, penelitian ilmiah, kreativitas, serta inovasi yang dapat menunjang masa depan mereka.

SPMMT memandang bahwa kegiatan kepemudaan dan festival daerah seharusnya menjadi kesempatan bagi pemerintah untuk menghadirkan program yang mendorong peningkatan kapasitas generasi muda, bukan sekadar menciptakan keramaian selama acara berlangsung.

“Di saat pelajar membutuhkan stimulus literasi, ruang-ruang ilmiah, dan penguatan kompetensi digital yang bernilai akademis maupun ekonomis dalam jangka panjang, pemerintah justru terjebak pada euforia hiburan sesaat yang belum jelas dampaknya terhadap penguatan intelektual,” demikian kritik SPMMT dalam keterangan resminya.

Organisasi tersebut menilai, tanpa indikator manfaat yang jelas, penyelenggaraan festival berisiko lebih menonjolkan aspek hiburan dibandingkan tujuan pembangunan sumber daya manusia.

SPMMT menegaskan bahwa kritik mereka tidak semata-mata diarahkan pada permainan Mobile Legends. Hal yang lebih mendasar adalah pilihan prioritas program pemerintah ketika menyusun agenda kegiatan publik.

Menurut SPMMT, perkembangan teknologi digital sebenarnya dapat dimanfaatkan untuk mendukung pendidikan, pengembangan keterampilan, dan penciptaan peluang ekonomi bagi generasi muda. Namun, pemanfaatan teknologi tersebut perlu disertai tujuan, ukuran keberhasilan, serta tindak lanjut yang jelas.

Karena itu, pemerintah daerah dinilai perlu memastikan bahwa setiap mata lomba dalam Morotai Festival 2026 memiliki relevansi dengan pengembangan potensi pemuda dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.

SPMMT juga berpandangan bahwa festival daerah dapat menjadi panggung untuk memperkenalkan potensi sains, kebudayaan lokal, kreativitas, kewirausahaan, dan inovasi anak muda Morotai.

“Festival daerah seharusnya menjadi panggung untuk memperkenalkan wajah pendidikan berkelanjutan sekaligus menggali potensi sains, budaya, dan inovasi pemuda lokal,” tegas organisasi tersebut.

SPMMT mendesak Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai mengevaluasi indikator capaian Morotai Festival 2026, termasuk tujuan setiap mata lomba, sasaran peserta, serta manfaat yang diharapkan setelah kegiatan berakhir.

Menurut mereka, keberhasilan festival tidak semestinya hanya diukur melalui jumlah kegiatan, kemeriahan acara, atau tingginya antusiasme penonton. Pemerintah juga perlu menunjukkan kontribusi kegiatan terhadap peningkatan keterampilan, kreativitas, pengetahuan, dan peluang pengembangan diri generasi muda.

SPMMT meminta agar agenda festival disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan pelajar dan mahasiswa, terutama melalui kegiatan yang dapat memperkuat budaya membaca, diskusi ilmiah, penguasaan teknologi, pelestarian budaya, dan inovasi lokal.

Organisasi tersebut juga menilai bahwa persoalan pendidikan perlu mendapatkan perhatian serius dan tidak boleh tenggelam di tengah berbagai agenda hiburan daerah.

Bagi SPMMT, pemerintah harus mampu menyeimbangkan kegiatan rekreatif dengan program yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi agenda tahunan, tetapi juga dapat berkontribusi terhadap pembangunan manusia di Morotai.

SPMMT menegaskan bahwa pemerintah daerah perlu mengembalikan orientasi pembangunan kepemudaan pada penguatan kapasitas dan kualitas sumber daya manusia.

Mereka berharap Morotai Festival 2026 tidak hanya menjadi ruang kompetisi dan hiburan, tetapi juga momentum untuk memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam membangun generasi muda yang berpengetahuan, kreatif, kritis, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

SPMMT menilai, tanpa perencanaan yang terukur, agenda festival berpotensi kehilangan relevansinya dengan kebutuhan jangka panjang masyarakat.

Karena itu, organisasi tersebut kembali mendesak Pemkab Morotai melakukan evaluasi terhadap arah dan indikator keberhasilan festival, sekaligus memberikan perhatian lebih besar terhadap peningkatan kualitas pendidikan.

Kritik SPMMT ini menjadi pengingat bahwa setiap agenda pemerintah daerah perlu memiliki tujuan yang jelas, manfaat yang dapat dipertanggungjawabkan, serta keterkaitan dengan kebutuhan masyarakat.

Hingga berita ini disusun, belum terdapat keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai mengenai tanggapan atas kritik SPMMT tersebut. Penjelasan pemerintah mengenai pertimbangan memasukkan lomba Mobile Legends, tujuan penyelenggaraan festival, serta indikator manfaat bagi masyarakat diperlukan agar publik memperoleh gambaran yang utuh.

Penulis: Habib Inga